Wednesday, April 13, 2011

Sorry Guys!

Haven't updated the blog for quite some time. Too busy in the office (doing internship) >.<

Thursday, March 10, 2011

Amazing (Pad) Thailand

Yes, it is the tagline of Thailand’s tourism. I personally agree with the tagline, especially when it talks how amazing Thai foods are (especially Pad Thai). FYI, Pad Thai literally means Fried Thai.  

This post shares the recipe of one of my favorite fried noodle dishes in South East Asia: Pad Thai! I did the “experiment” with my friends about 4 weeks ago and surprisingly, it turned to be quite good! Here is the recipe for 2 servings.

Chicken Pad Thai.
Picture source: http://thaifood.about.com/

Pad Thai ingredients:
1 bowl of rice noodle, soaked in water
1 tablespoon of chopped garlic
1 tablespoon of chopped shallots
3 tablespoons of finely diced extra firm tofu
100 grams of chicken fillet, cut it into bite size
1 tablespoon of oyster sauce
1 egg
3 tablespoons of Pad Thai sauce
1 tablespoon of chili powder
1 tablespoon of crushed peanuts
4 tablespoons of vegetable oil
Spring onions and raw bean sprouts for garnishing

Pad Thai Sauce ingredients:
2 tablespoons of tamarind
2 teaspoons of fish sauce
3 tablespoons of palm sugar
2 cups of water

Pad Thai Sauce preparation
1.       Boil the water then put the tamarind, stir slowly
2.       After the tamarind dissolved into the water put the fish sauce and palm sugar. Stir until the palm sugar melts.
3.       Turn off the heat and let the sauce cools down

Pad Thai preparation:
1.       Heat the oil then stir fry the chopped garlic and shallots
2.       After the garlic turns into brownish color, throw the chicken into the wok and stir it until cooked.
3.       Add the tofu and stir for around 30 seconds
4.       Put the rice noodle and add a little bit of water to soften it
5.       Add the Pad Thai sauce and oyster sauce, stir briskly until the rice noodle changes its color
6.       Crack in the egg in the rice noodle and stir it until it cooked
7.       Put the Pad Thai on a plate. Garnish it with spring onions and raw bean sprouts. Put the crushed peanuts and chili powder on side

Bon Appetite, Pad Thai is ready! J

Tuesday, March 1, 2011

Lombok Trip: Rumah Makan "2EM"

The trip was somewhere in January 2011, I couldn't remember the exact date. But it was 7 days trip. 
For readers who are not familiar with Lombok,  I do recommend you to read this (it's  from wikipedia anyway) first.

Lombok, an island situated in West Nusa Tenggara province, Indonesia, is known for their virgin beaches (no pun intended) and unique Sasak culture. I went there (for the fourth time in my life) on January 2011 with my brother, his wife, and friends. It was fun trip since we stayed in "quite" deserted nearby island where electricity and fresh water are extremely valuable. But in this post, I only share you my culinary trip story on Lombok.

Lombok is also known for its famous dish: Ayam Taliwang. For non-Lombok islanders, Ayam Taliwang is understood as a spicy chicken dish with chili, shrimp paste, lime, and various local herbs. Unfortunately, it's a misconception. Ayam Taliwang (or Taliwang Chicken in English) is actually a name of a chicken species which is farmed in a place named Taliwang, Lombok island.

Its size is smaller than common chickens and it is still bigger than a pigeon. So the dish with those chilies, shrimp paste, and etc has another name which locally called as "Ayam Julat". Julat refers to the technique of cooking Taliwang chickens.

After spending 2 days  in an island name Gili Nangu, we went back to the provincial capital of West Nusa Tenggara, Mataram. We had our lunch at a local restaurant named "2 EM" which specialized in cooking Taliwang chickens and various local Lombok foods.

We ordered Ayam Julat, Sate Sum-Sum (marrow satay) , Beberuk, Plecing Kangkung, steamed rice, and some other dishes that I forgot to take pictures of them.

Ayam Julat
Ayam Julat is actually a Taliwang chicken grilled in spicy paste that consists of chilli, shrimp paste, lime, lemongrass, tomatoes, garlic, and shallots. It tastes really spicy with a bit of sour hint. It's like heaven in your mouth if you enjoy this Ayam Julat with a plate of rice. A reminder: For non-Indonesian or those who don't take spicy food , please not order this dish.It's extremely spicy! But if you dare to take the challenge, then go for it. Eat with your own risk :)




Beberuk
Next one is Beberuk. I am not sure whether this is a dish or just a condiment, nevertheless I found it very delicious. Beberuk consists of chopped long beans, shallots, bird eye chillies, eggplants and mixed up with chilli sauce and lime. I think this dish shares similarity with my all time favorite South East Asian salad: Som Tam, though Som Tam is far inferior in terms of spiciness and sourness compared to Beberuk.





Sate Sumsum/Marrow Satay
This one is called, Sate Sum Sum or marrow satay. I had never encountered this type of satay before. And unlike its colleagues in Java, this satay doesn't employ peanut sauce as the condiment. It uses something that similar to chilli sauce with a bit of sweetness inside. The sauce give additional addiction when the marrow melts in your mouth. A must try dish.





Rice with Plecing Kangkung
The last thing I tried (and I took a picture of it) is Plecing Kangkung. Kangkung or Kangkong or Morning Glory or Water Spinach is abundant in Lombok. So the local people use it as their source of fibre in various Lombok dishes and one of them is cooked it in Plecing style. Plecing Kangkung basically is boiled Kangkung with grated coconut, peanuts, and tomato sauce. It is not spicy or hot, and I guess it has an important role in Lombok feast as a neutralizing food after eating those ultra spicy dishes like Ayam Julat or Beberuk.


Overall the food in 2 EM is very satisfying, although it may not be enjoyable for some people. If I am not wrong, we spent around 50000 IDR per person for all the dishes (there are five of us). Great food with affordable prices.

Rumah Makan “2 EM”
Jalan Transmigrasi Nomor 99
Cakranegara, Mataram
Nusa Tenggara Barat
Indonesia












Tuesday, February 22, 2011

Sajian Timur Laut Thailand di Nongkhai Beer House


Grilled Chicken/Gai Yang
Setelah puas menjajaki sajian kuliner di Diandin Leluk, Golden Mile Complex, pada ada hari yang sama, 9 November 2010, kami melanjutkan petualangan kuliner kami ke Nongkhai Beer House yang tepat berada di samping Diandin Leluk.
Restoran ini pernah masuk di dalam penilaian Makansutra, dan diberikan 5 dari 6. Terlihat sesuatu yang menjanjikan dari kuliner yang dihidangkan di tempat ini.
Segera kami dipersilakan duduk oleh sang ibu pelayan, dan diberikan menu. Dari menu, kami bisa melihat bahwa makanan yang disajikan di Nongkhai tidaklah banyak dan terlihat jelas bahwa makanan yang disajikan merupakan makanan khas dari Isan, timur laut Thailand seperti Som Tam (papaya salad) dan Gai-Yang (grilled chicken).
Masakan timur laut Thailand cukup berbeda dengan sajian masakan Thailand pada umumnya. Makanan-makanan yang berasal dari timur laut Thailand sangat dipengaruhi oleh Laos. Som Tam atau yang lebih dikenal sebagai Papaya Salad sebenarnya adalah makanan Laos. Tapi karena kedekatan geografis dan budaya, makanan tersebut akhirnya diserap oleh Thailand.
Berbeda dengan penduduk Asia Tenggara lain yang menjadikan nasi sebagai makanan pokok, Ketan adalah makanan pokok dari penduduk timur laut Thailand dan Laos. Hal unik lainnya adalah lalapan menjadi bagian dari sajian yang harus selalu ada dalam meja mereka. Mengingatkan kita pada kuliner Sunda.
Fresh Vegetables
Sticky Rice
Di Nongkhai Beer House, kami memesan Gai-Yang(Grilled Chicken), Mixed Seafood Salad, dan Boiled Cockles, serta tidak lupa 3 bungkus ketan. Lalapan disajikan secara gratis di masing-masing meja. Lalapan terdiri dari batang, kubis, dan daun yang menyerupai daun sirih. Saya curiga bahwa daun yang disajikan adalah daun chapu, yang juga digunakan dalam sajian fine dining Thailand bernama Miang Kham. Nanti kalau ada kesempatan akan saya ceritakan tentang uniknya hidangan tersebut.
Grilled Chicken yang kami pesan memang memiliki rasa minimalis dan gurih. Sangat cocok dimakan dengan sambal manis pedas yang disajikan. Menurut kami, cara paling tepat untuk memakan hidangan ini adalah ambil sejumput ayam, ketan, bungkus dengan daun lalapan yang disajikan dan beri sedikit kubis dan batang, dan diakhiri dengan cocolan sambal tersebut.


Rasanya yang pahit, gurih, asin ,manis, dan sedikit pedas akan member sensasi kuliner yang menarik dan juga kepuasan sendiri menikmati hidangan ini dengan cara mendekati aslinya. Walaupun kami yakin bahwa tidak semua orang bisa menikmatinya dengan cara tersebut.
Boiled Cockles
Hidangan selanjutnya yang kami nikmati adalah Boiled Cockles. Direbus dengan cara sederhana dan tidak banyak bumbu, mengakibatkan rasa kerang yang agak amis. Cocok jika dimakan dengan sambal asam dan pedas yang disajikan. Rasa amis yang mungkin cukup mengganggu bagi sebagian orang akan tertutup oleh pedas dan asam yang dihasilkan dari jeruk lemon.
Hidangan terakhir yang kami coba di Nongkhai adalah Mixed Seafood Salad. Rasa asam dan pedas berpadu dengan sempurna dengan potongan seafood, sosis, dan sayuran yang ada di dalamnya. Rasa yang sangat pas ketika menikmati makanan laut yang dimasak minimalis. Hidangan ini juga tidak meninggalkan jejak pedas yang menyengat pada lidah anda, melainkan rasa pedas yang menggelitik dan menyegarkan.
Total uang yang harus kami keluarkan untuk seluruh hidangan tersebut ditambah air putih adalah 29 SGD. Harga makanan di sini berkisar antara 5 – 10 SGD. Harga yang sangat bersahabat untuk rasa yang memuaskan.
Tempat ini sangat kami rekomendasikan untuk orang yang penasaran dengan masakan regional Thailand atau Laos. Dengan gaya tampilan restoran yang sederhana membuat anda nyaman, ditambah dengan pelayanan yang ramah. Walaupun ada kendala kecil seperti sang pelayan yang kesulitan berbahasa Inggris. Secara keseluruhan restoran ini layak untuk dikunjungi.

Secercah Thailand di Negeri Singa


Pada 9 November 2010 saya dan beberapa orang teman mendapat kesempatan untuk mencicipi 2 restoran masakan Thailand yang terletak di Golden Mile Complex, yaitu Diandin Leluk dan Nongkhai Beer House.
Golden Mile Complex yang terletak di Beach Road memang sudah dikenal sebagai tempat berkumpulnya warga Thailand di Singapura. Di sini anda bias menemukan berbagai supermarket, toko, dan tentunya kuliner yang otentik Thailand.
DaharTime sampai di lokasi sekitar pukul 7.30 malam dan segera meluncur ke restoran pertama yang akan kami nilai yaitu Diandin Leluk
Tom Yam Tha Lai
Diandin Leluk merupakan restoran Thailand yang menyajikan makanan Thailand pada umumnya seperti Tom Yam, Mango Salad, dan Pad Thai. Yang membedakan Diandin Leluk dari restoran-restoran Thai lainnya di Singapura adalah rasanya yang masih mendekati rasa Thai yang otentik dan sangat pedas.
Kami memesan Tom Yam Tha Lai (Seafood Tom Yam), Crabmeat with Minced Chicken, Thai Chicken Laab, Bambo Salad, dan Mango Salad. Kami juga memesan 2 buah makanan pencuci mulut yaitu Ketan Durian dan Es Ruby. Total kerusakan yang harus ditebus adalah sebesar 59.81 SGD.
Menurut pendapat kami, Tom Yam yang disajikan di sini mendekati rasa yang otentik. Dengan rasa asam dan pedas yang sangat dominan, Tom Yam Diandin Leluk memberikan sensai pedas dan segar yang luar biasa, anda dijamin akan berkeringat. Cacahan tomat yang tersebar di dalam kuah Tom Yam membantu anda menetralisir pedas tetapi memberikan kecupan manis yang indah pada lidah anda.
Thai Mango Salad
Tetapi saya tetap mengatakan bahwa Tom Yam di Diandi Leluk hanya berhasil mendekati rasa otentik dari sebuah Tom Yam. Dikarenakan permainan dari bumbu yang kurang seimbang, dan rasa dari daun jeruk yang tidak terlalu banyak. Padahal Tom Yam akan semakin nikmat jika aroma daun jeruk menguap di depan hidung anda saat menikmati kuah pedas dan asamnya akan membuat anda bermimpi terbang ke Thailand.
Masakan selanjutnya yang kami coba adalah Bambo Salad dan Thai Mango Salad. Thai Mango Salad biasa dikatakan sebagai makanan pembuka yang menyegarkan tetapi juga berbahaya. Cita rasa asam dan pedas yang dominan memang membangkitkan selera makan, tetapi jika perut anda belum terbiasa, memakan Mango Salad sebagai makanan pembuka akan membuat anda menderita.
Bamboo Shoot Salad
Cita rasa Mango Salad yang disajikan di Diandin Leluk sangatlah menyegarkan, rasa pedas yang muncul dalam Mango Salad bisa bermain dengan cantik dengan cacahan kacang dan rasa asam yang ditimbulkan dari mangga mudanya. Terdapat sentuhan rasa kemangi dan air asam, membuat hidangan ini sebagai pembangkit selera yang sempurna.
Sedangkan Bamboo Salad sangat membutuh acquired taste, bau yang muncul dari rebung memang kadang-kadang sangat mengganggu selera makan beberapa orang. Bamboo Salad lebih mengedepankan cita rasa pedas dan rempah yang digunakan dalam masakan ketimbang rasa dari rebung itu sendiri. Kami tidak terlalu menyarankan makanan ini bagi anda, tetapi jika ada menyukai tekstur yang keras dan krenyes-krenyes, serta tidak punya masalah dengan bau rebung maka silakan anda memesan makanan ini.

 Thai Laab Chicken adalah hidangan lain yang kami pesan. Laab Chicken adalah daging ayam cincang rebus yang dicampur dengan air asam, cabe kering bubuk, rajangan bawang merah dan daun kemangi. Rasanya bisa anda bayangkan, yaitu pedas dan asam. Cocok sekali jika dimakan dengan nasi putih hangat.
Chicken Laab
Crabmeat with Minced Chicken bisa dikatakan sebagai comfort food. Berbentuk mirip dengan ngohiang yang digoreng, makanan ini akan amat mudah disukai banyak orang. Rasanya yang gurih dan asin menjadi pelengkap dari hidangan lain yang bercitarasa dominan asam dan pedas. Makanan ini mungkin tidak terlalu istimewa dari segi kompleksitas rasa, tapi akan membuat anda ketagihan. Rasa yang sederhana justru yang membuat anda tanpa sadar menambah terus.
Setelah puas dengan hidangan-hidangan tersebut, kami mengobrol sebentar dan akhirnya memutuskan untuk memesan makanan pencuci mulut. 2 makanan pencuci mulut yang beruntung karena kami pesan adalah Durian with Sticky Rice dan Ice Ruby.
Crab Meat with Minced Chicken
Durian with Sticky Rice atau saya bisa terjemahkan sebagai ketan durian adalah makanan yang sederhana tapi rata-rata orang dengan lidah Asia Tenggara akan mencintai makanan ini. Rasa pulen dari ketan yang diguyur dengan rasa manis dan sedikit sentuhan alkohol dari durian membuat lidah anda bergoyang dan menyendok makanan tersebut terus menerus.
Sedangkan Ice Ruby, yang menurut saya berbentuk seperti kolang-kaling berwarna merah dengan tekstur lebih keras dan disiram dengan santan akan menjadi makanan yang sangat menyegarkan setelah anda berjibaku dengan hidangan utama yang pedas dan asam. Seakan-akan penderitaan yang lidah anda alami tadi, telah hilang seketika.
Ditimbang dari rasa , harga, dan porsi yang disajikan, Diandin Leluk memang direkomendasikan. Apalagi tempatnya lumayan besar dan nyaman. Membawa rekan kerja atau keluarga ke sini bisa memberikan pengalaman kuliner yang nyaman dan tentunya juga memuaskan. Kekurangan dari Diandin Leluk adalah pelayanan yang kurang tanggap dan lambat. Sangat sulit untuk memanggil pelayan ke meja kami. Apakah ini dikarenakan jumlah staf yang kurang memadai atau memang para pelayan tidak diajari untuk lebih beramah-tamah kepada para tamu? Tapi sudahlah, karena rasa yang sesuai dan harga yang lumayan bersahabat, kekesalan kami juga terobati.